Sahabat, Perkenalkan Namaku Agnes

Bersama sesama penghuni sementara RS Dharmais (aamiinn)
Nama ku Betria Agnesti, panggil saja Betria. Umurku 17 tahun.
Aku duduk di bangku kelas 3 SMA!! Namun akung aku harus berhenti sekolah karena terkena suatu penyakit.
Dulu sewaktu kecil, aku jarang sekali sakit. Di waktu aku kecil aku selalu riang dan penuh keceriaan. Kemudian mulai beranjak dewasa...
Waktu itu aku duduk dibangku kelas 2 SMA. Detik-detik dimana aku mulai terkena penyakit. Waktu itu pertama yang dirasa yaitu gatal-gatal di sekujur tubuh.
Gatal yang tak terhenti, yang membuat perasaan jadi aneh. Dulu aku menganggap ini hanya sepele (semacam alergi biasa) hingga saat itu aku biarkan saja!!
Hari demi hari terus aku lewati semakin hari semakin gatal dan muka ku nampak semakin pucat. Suatu ketika, saat saat sedang berkaca terlihat ada yang sangat berbeda dengan leherku, terlihat agak bengkak di sebelah kiri.
Aku bertanya dengan semua orang yang ada di rumah, "Kenapa leher ku bengkak dan seperti ada benjolan" ujar diriku.
Waktu itu aku kemudian dibawa ke bidan terdekat, dan kata bidan pun itu "tidak apa apa, tidak membahayakan". Akupun sedikit lega mendengar kata si bidan...
Hari demi hari pun terus aku lewati dan badan ku pun terus menurun. Semakin hari semakin kurus, hingga akhirnya di suatu pagi aku dibawa ke dokter.
Saat diperiksa, ternyata kata dokter harus dioperasi. Akhirnya mau tidak mau aku harus dioperasi, yaa demi kesembuhan ...
Waktu itu saat tindakan operasi, rasa takut terus mengikuti. Sunyi dan hanya terdengar detikan jarum jam... Saat obat bius mulai disuntikan di selang impus, dan perlahan-lahan aku tidak sadarkan diri. Entah apa yang diperbuat oleh mereka!!
Waktu terus berjalan waktu itu tiba-tiba aku sudah di luar ruangan operasi, dan telah sadarkan diri sembari menunggu kedatangan dokter. Saat dokter datang, dokter pun bilang besok aku sudah boleh pulang dan tentang hasil penyakit, akan dihubungi jika hasilnya sudah keluar...
Akhirnya keesokan harinya aku pun pulang ...
Hari terus berlalu dan sudah 1 minggu, masih tak kunjung ada kabar dari dokter. Tak lama kemudian benjolan yang di leher pun tumbuh lagi. Muka tambah pucat, berat badan makin menurun.
1 bulan kemudian barulah datang kabar dari pihak rumah sakit. Aku diminta datang ke RS untuk melihat hasil penyakitku.
Sesampai di RS sekitar jam 11, aku menumui dokter yang datang dengan membawa hasil pemeriksaan. Sang dokter pun membaca hasilnya, dan ternyata hasilnya aku terkena penyakit Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma Hodgkin).
Kata dokter, ini penyakit ganas. "Anda harus di rujuk ke Jakarta". Aku pun terkejut dengan hasil pemeriksaan penyakit ku ini.
Aku berfikir kenapa aku bisa terkena penyakit seperti ini. "Diskusi kan dengan keluargamu dulu, kapan kamu mau dirujuk".
Akhirnya aku pulang dengan air mata terus mengalir, serta rasa takut terus mengikuti.
Sesampai di rumah, beberapa anggota keluargaku pun langusng berdiskusi. Karena kami tergolong dari keluarga kurang mampu, jelas yang pertama difikirkan yaitu masalah keungan.
Hari pun berlanjut, orang tua ku berusaha kerja keras mencari uang untuk pengobatan ku.
Waktu itu aku mencoba berobat di tempat yang cukup jauh dari rumah ku. Cara pengobatannya yaitu memberi obat lewat suntikan setiap hari. Sepulang sekolah aku berobat di sana. Namun sampai hari ke 18, tak ada perubahan sedikit pun, hingga akhirnya aku berheti berobat di disana.
Hari pun tetap berlanjut orang-orang terdekat menyarankan minum tumbuh-tumbuhan, atau obat herbal. Akhirnya aku mencoba apa pun, demi kesembuhan. Semua yang orang bilang pun aku coba. Tapi apa boleh buat tetap tak ada hasil atau perubahan sedikit pun.
Beberapa bulan kemudian, alhamdulillah akhirnya mendapat jalan (rezeki) untuk berobat ke Jakarta. Akhirnya setelah meminta surat rujukan dari dokter, aku langsung diberangkatkan ke Jakarta.
Tiba di Jakarta, aku langsung di tangani oleh dokter dan di bawa ke ruang UGD, kemudian dirawat dan di tambah darah 4 kantong.
Beberapa hari kemudian, dokter menindaki bahwa aku harus dibiopsi agar tau penyakit ini ganas atau tidak. Yaa begitulah apa boleh buat demi kesembuhan, apapun akan aku jalani.
Waktu mulai memasuki ruangan operasi, aku berdoa dengan keluarga dan sembari menunggu dokter bedah, aku terus beristighfar dengan rasa takut yang terus mengikuti, maklum pengalaman perdana menjalani biopsi di RS Darmais.
Obat bius pun dimasukkan melalui selang impus. Rasa pegal-pegal linu pun sedikit terasa di badan sebelum akhirnya tiba-tiba tak sadarkan diri.
Saat tersadar, Aku sudah berada di dalam ruangan perawatan. Beberapa hari kemudian dokter membolehkan ku untuk pulang.
Karena jauh dari sanak saudara, akhirnya orang tuaku mengajakku pulang sementara ke sebuah kamar kos yang kami sewa tak jauh dari RS Darmais.
Beberapa hari kemudian, saat pemeriksaan lanjutan, dokter menyebut bila penyakit ini memang ganas dan aku harus menjalani kemoterapi.
Waktu berjalan... Saat pertama kali di kemo, dengan banyak obat yang masuk, tubuh ku saat itu terasa memang ada perubahan. Leher pun tak membengkak lagi.
Perkembangan ini membuatku dan keluarga cukup lega, meskipun proses kemoterapi yang harus dijalani masih sangat panjang.

(Agnesti)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melawan Sel Monster Jahat

Semangat Jiwa Mengalahkan Kanker